Ibu Bekerja, Tak Perlu Menuntut Diri Sempurna

Pregnancy Concierge, Rosie Pope, menyarankan ibu bekerja perlu memposisikan dirinya secara tepat. Menghadirkan dirinya secara penuh saat bekerja di kantor, begitu pun saat bersama anak dan keluarga.

"Masalah ibu bekerja biasanya memikirkan anak saat bekerja, memikirkan pekerjaan saat bersama anak-anak. Kita tidak bisa melakukan semua hal sekaligus. Jadi, hadirkan diri kita secara total saat bekerja atau menjadi ibu bagi anak-anak," ungkap Rosie saat wawancara melalui hubungan telepon bersama sejumlah media internasional.

Ibu bekerja perlu menyeimbangkan pekerjaan dan menjadi ibu. Mencari cara bagaimana supaya bisa tetap bekerja dan bersama anak-anak merupakan perjuangan.

Bintang reality show "Pregnant in Heels" Sony Entertainment Television ini mengaku terkadang untuk menyeimbangkan perannya, Rosie membawa anak ke tempat kerja.

Meski begitu, seberapa keras pun usaha ibu bekerja menyeimbangkan perannya, tetap saja perasaan bersalah muncul. Jika ini yang terjadi pada Anda, tak perlu khawatir, ini adalah dilema umum ibu bekerja dan Anda tak sendirian.

"Tetap sampai sekarang saya merasa belum bisa melakukan yang terbaik dan paling maksimal seperti yang saya harapkan. Meski saya tahu saya bekerja untuk membuat kehidupan lebih baik untuk anak-anak saya, tak ada hari yang tak saya lewati dengan perasaan bersalah karena banyak menghabiskan waktu untuk bekerja," ungkap penulis buku Mommy IQ ini.

Dengan memahami berbagai risikonya dan memposisikan diri secara tepat, ibu bekerja setidaknya bisa mengatasi dilema. Utamanya dilema umum seperti apakah mereka perlu kembali bekerja atau tidak.

Rosie menceritakan bagaimana di New York, tempat tinggalnya saat ini, banyak pekerja yang sangat sibuk, seperti pengacara atau trader di Wall Street. Biaya merawat anak sangat mahal, hampir setara dengan gaji mereka. Jadi saat mereka menjadi ibu, dilema pun muncul apakah mereka harus menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karier? Berarti mereka akan terkendala saat harus kembali bekerja nantinya. Atau kembali bekerja tapi risikonya tidak akan bisa melihat anak karena kesibukannya.

Lagi-lagi, menyeimbangkan pekerjaan dan menjadi ibu, tanpa memaksakan diri menjadi sempurna untuk melakukan semua hal sekaligus, penting dikuasai kalangan ibu bekerja untuk mengatasi dilema ini.

Jual Bantal Murah




Jual Bantal Murah - Kali ini tips dan cara sukses ingin membagikan sukses story bagi anda yang ingin memulai usaha dari skala yang kecil. Kita akan tinjau sebua usaha kecil dan menengah (UKM) Spreishop.com yang telah memiliki pengalaman panjang sebagai grosir sprei murah di Jakarta. Spreishop adalah toko online dengan pengalaman yang panjang dalam dunia internet marketing

Berawal dari kemampuan pemiliknya dalam bidang Internet Marketing maka dimulailah mencari produk apa yang tepat untuk dijual melalui internet. Bagi anda yang merasa gaptek terhadap dunia Internet tidak perlu bingung. Berjualan melalui Internet dapat dilakukan koq dengan beberapa cara, diantaranya melalui FB yang tentunya sudah anda kenal. Jadi tidak ada yang sulit jika anda ingin mencoba bisnis berbasis internet.

Dari beberapa produk berkualitas untuk aksesoris kamar tidur seperti sprei murah, bedcover murah, akan coba kami ketengahkan salah satu produknya adalah bantal murah. Bantal dewasa ini memiliki jenis yang sangat bermacam macam baik ukuran maupun fungsinya, bahkan begitu bervariasinya sehingga menghasilkan nama nama yang terbilang unik. Produk kelengkapan ruang tidur anda seperti bantal murah memiliki beragam nama 

  1. Bantal Cinta
  2. Bantal Poligami
  3. Bantal Donat
  4. Bantal Selimut
  5. Bantal Kursi
Coba tengok yang namanya Bantal cinta, bantal ini memiliki panjang 2 kali dari bantal normal. Dikasih julukan bantal cinta mungkin karena ditujukan untuk pasangan agar dapat tidur berbagi satu bantal biar romantis, seperti judul lagu .. ya .. sebantal berdua.

Bantal Poligami, nah ini yang unik baik dari segi nama maupun bentuknya... Bantal ini panjangnya bisa mencapai 4 kali bantal biasa. Aneh dan unik bukan nama Bantal Poligami tapi yang jelas 1 bantal ini muat lho kalau digunakan untuk 5 orang. he..he..
seperti ikan pindang dalam keranjang ya ...

Peluang Usaha Jual Bantal Murah


Anda ingin memiliki usaha sampingan disela sela kesibukan dan tidak ingin repot mengelolanya seperti mencari produk, mengemas serta mengirimnya, maka ada kabar gembira dari SPREISHOP.

Spreishop memberi kesempatan yang juga ingin jual bantal murah, karena Spreishop mencari agen/reseller di seluruh Indonesia. Biasanya bagi yang ingin menjadi reseller cukup dengan mendaftar sebesar Rp. 30.000,- maka anda akan dibekali katalog produk ekslusif dan anda sudah dapat mulai usaha jual bantal murah serta produk spreishop lainnya.

Untuk Anda yang tinggal di luar Pulau Jawa, ini adalah peluang berharga untuk berjualan produk spreishop, dikarenakan peluang usaha Jual Bantal Murah bisa berkembang dengan pesat hal ini dikarenakan produk ini diproduksi di Jakarta yang memungkinkan untuk mengakses harga bahan baku dengan murah.

Harga bantal murah dengan berbagai tipe ini dapat anda tanyakan atau kunjungi langsung situsnya

HP          : 0856 9771 3858
PIN BB   : 2A9966BF





Sekian dulu ulasan tips bisnis dari usaha Toko Online Spreishop yang Jual Bantal Murah silahkan bagi anda yang berminat berbisnis di bidang ini dapat menghubungi kontak diatas. Kuncinya adalah kita tidak boleh putus asa jika gagal, Mati satu tumbuh seribu...

Melirik Bisnis Desain Toples

Inilah bisnis yang dibangun oleh Aliifah Mahdy, lulusan desainer grafis Limkokwing University Malaysia. Katanya, toples dipilih karena ia ingin menciptakan suatu karya seni di luar media yang biasa digunakan oleh orang banyak seperti kanvas atau layar.

“Toples atau jars, punya nilai seni dan keindahan yang tinggi. Selain itu bisa berfungsi untuk wadah menyimpan apa saja, sesuai ukurannya,” tutur Al, demikian ia biasa disapa, saat berbagi cerita di Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (7/5/2013) lalu.
Sejak September tahun lalu, Al merintis bisnis desain toplesnya di bawah brand Lovelyjars. Sebelumnya, ketika orang hanya menggunakan toples untuk kue, ia sudah terbiasa menggunakan toples untuk menyimpan barang-barang lainnya seperti make-up, cotton bud, kapas, dan lainnya.

“Di awal berdiri, selama sebulan masih mengerjakan semuanya sendiri dari proses cari barang, eksekusi, marketing, dan lain-lainnya, kalau sekarang sudah ada beberapa orang yang bantu,” ungkap perempuan berkerudung ini.

Untuk marketing, Al mengaku memanfaatkan hampir semua media sosial yang ada, seperti facebook, twitter, dan instagram. Sejauh ini, upaya itu efektif. “Social media benar-benar membantu sekali di penjualan, bisa dibilang kencang penjualannya dari sini,” ujarnya sumringah.

Sambutan publik bisa dibilang membuat Al kaget karena di luar dugaan. Pertama kali ia mengunggah 15 toples di facebook, tak lebih dari 10 menit sudah ada yang mengajukan permintaan dan membeli semuanya. Dari situ, semangatnya makin menggebu.

“Aku langsung tahu kalau jars ini bakalan jadi one must have items dan memang banyak ternyata orang yang menginginkannya,” tutur dia.

Selain jualan secara online, Al juga membawa Lovelyjars ikut bazaar-bazaar yang kerap digelar di Jakarta. Sejauh ini, ia mengaku tidak  menghadapi masalah begitu berarti dalam proses berbisnis yang ia jalani.

“Aku terlahir dari keluarga bisnis. Abah (ayah) aku Syarief Mahdy juga seorang businessman, kebetulan usaha beliau di bidang jamu sudah 50 tahunan. Biasanya aku berbagi atau curhat sama dia dan umi (ibu),” cerita Al.

Memulai usaha
Dalam menjalankan bisnis desain toplesnya, Al menggunakan toples dari luar negeri yang ia impor. Alasannya karena kualitas barang yang bagus. Ke depan, ia ingin memproduksi sendiri supaya tidak impor lagi.

Setelah beberapa bulan berjalan, sudah ada toples yang jadi best seller seperti toples dengan untaian kata seperti "love", "faith", "kiss". Yang bernuansa romantis atau bentuk bunga, kebanyakan digunakan sebagai hadiah.

“Banyak juga yang request untuk hiasan kamarnya sendiri, supaya tampak lebih cantik,” ujar dia.

Sedikit bocoran, set jars yang paling laku adalah seri Snow White Disney serta desain Shio yang kalau dibeli oleh satu keluarga maka shionya bisa beda-beda dan diborong semua. Di luar itu, ada pembuatan motif sesuai permintaan.

“Maunya Lovelyjars ke depan akan dikemas dalam bentuk yang lebih beragam,” ungkap Al.

Sampai saat ini sudah ada 13 bentuk toples dengan desain bagian atas lebih dari 250 buah. Harganya berkisar dari Rp 60.000 sampai Rp 200.000, sementara untuk satu set jars mulai dari Rp 1,5 juta sampai 2,5 juta. Selain jadi benda koleksi, toples ini bisa menjadi suvenir, cendera mata, dan hadiah.

Koleksi Lovelyjars sudah terdapat di dua lokasi, yakni di dia.lo.gue Artspace Kemang, dan Ria Miranda Prime Kemang. Disampaikan Al, ada kemungkinan Lovelyjars nantinya akan masuk ke pasar Bali. Ia juga berencana membuka Alf's Stuff Studio dalam waktu dekat.

“Motivasi berbisnis datang dari sekitar dan diri sendiri. Mikirnya jangka panjang, kalau sampai aku nanti nikah dan punya anak bisa kerja tanpa terkekang sama waktu dan bisa superdekat sama keluarga,” tuturnya beralasan.

Dengan membuka usaha sendiri, Al juga merasakan bisa membuka lapangan pekerjaan buat orang lain, dan itu ia harapkan bisa membantu sekitarnya. Beruntung, apa yang ia lakoni sekarang adalah hal yang ia sukai sehingga ia jalani dengan senang hati.


Mari... Lebih Percaya Diri di "Rumah Inspirasi"!

Ruang pamer "Rumah Inspirasi" terbuka untuk umum mulai Kamis (30/5/2013) hingga 30 September 2013. Selain sebagai ruang pamer, "Rumah Inspirasi" juga akan menjadi lokasi berbagai kegiatan bincang-bincang dan bengkel kerja. Kegiatan yang akan diadakan setiap Sabtu dan Minggu tersebut melingkupi bidang dekorasi rumah, hidangan dan kegiatan memasak, kerajinan tangan, berkebun, dan perawatan rumah.

Managing Editor Martha Stewart Living Indonesia Zustina Priyatni mengingatkan keterbatasan kuota setiap acara. Menurut dia, setiap acara bincang-bincang dalam "Rumah Inspirasi" mampu menampung 20 hingga 50 orang, sementara kegiatan bengkel kerja hanya mampu menampung sekitar 10 orang. Karena itulah, calon peserta perlu mengecek jadwal dan memesan tempat sebelumnya dengan menelepon atau mengakses akun Facebook serta Twitter Martha Stewart Living Indonesia.

Pemimpin Redaksi Martha Stewart Living Indonesia Dharmawan Handonowarih mengatakan, melalui kegiatan di "Rumah Inspirasi" ini, pihaknya berupaya membangkitkan rasa percaya diri bahwa dengan modal kemauan dan inisiatif, segala sesuatu yang baik dapat terlaksana.
"Bentuknya macam-macam, tapi semangatnya melakukan sendiri," ujarnya.

Ruang pamer 

"Rumah Inspirasi" menempati area seluas 208 meter persegi di area Moulin Rouge, Grand Indonesia Shopping Town, Skybridge, lantai lima. Di dalamnya terdapat area pintu masuk (foyer), ruang tamu, dapur, ruang makan, kamar tidur, dan ruang kerja.

Penataan dan pengerjaan interior ruang pamer dilakukan oleh SW Architect selama 30 hari. Berbagai perabot dalam "Rumah Inspirasi" berasal dari merek-merek ternama seperti Floral Home, Zeno Living, TChef Series, Kitchen Organizers, Tupperware, MOJE Natural Furnishing, ACE Home Center, Kandura Keramik, Inggil, Kedaung, dan Vivere. Selain itu, pewarnaan ruang dipersembahkan oleh Dulux.

Anda penasaran? "Rumah" ini dibuka setiap hari sejak mal dibuka hingga mal ditutup, yaitu sejak pukul 10.00 pagi hingga 10.00 malam selama empat bulan. Selamat menggali inspirasi!


Gagal di Bakso, Rizka Sukses Bisnis Oleh-oleh

Gerai Lapis Sangkuriang yang terletak di Jalan Pajajaran, Bogor, tak pernah sepi. Hampir sepanjang waktu, pengunjung menjejali gerai yang menjual kue lapis.

Lantaran banyak orang yang memburu oleh-oleh ini, Rizka Wahyu Romadhona, pemilik Lapis Sangkuriang, menerapkan sistem antrean bagi para konsumen. Ia juga membatasi pembelian hanya tiga kotak roti bagi setiap pembeli. “Produksi kami masih terbatas,” kata lulusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Surabaya ini.

Meski terbatas, nyatanya, penjualan lapis berbahan talas, umbi yang banyak terdapat di Bogor, cukup besar. Dalam sehari, tak kurang dari 3.900 kotak Lapis Sangkuriang terjual.

Selain gerai di Jalan Pajajaran, Rizka juga membuka dua cabang lain, di Jalan Sholeh Iskandar Bogor dan Jalan Raya Puncak, Ciawi. Di luar itu, masih ada 10 resellers yang tersebar di sekitar Bogor.

Usaha Rizka patut mengundang decak kagum. Maklum, perempuan asal Surabaya tersebut belum lama ini menjalani usaha ini. Tepatnya, pada Juni 2011, ia mulai membuat kue lapis berbahan talas.

Rizka dan sang suami, Anggara Kasih Nugroho Jati, memang pasangan pebisnis. Kiprah awal mereka adalah berdagang bakso. Rizka, yang saat itu masih berstatus karyawan suatu perusahaan telekomunikasi, selalu membawa bakso dalam kantong plastik dan dijual ke teman-teman sekantor.

Rizka melepas jabatan sebagai manager di perusahaan tersebut, setelah profit penjualan baksonya menyamai gajinya. Bersama sang suami, Rizka total terjun menjadi pengusaha bakso. Selain memasok bakso ke konsumen lamanya di Jakarta, mereka juga menawarkan kemitraan gerai bakso.

Sayang, usaha itu tak berumur panjang. “Banyak mitra yang nakal, mencampur bakso kami dengan bakso lain, sehingga kualitas menurun,” tutur dia. Rizka pun menuai rugi karena banyak gerai yang tutup. Ia harus menjual mobil. Bahkan, motor operasional ditarik leasing. “Kami menunggak pembayaran angsuran rumah hingga empat bulan,” kenang dia.

Lapis dari talas

Berpijak dari keterpurukan dan kebutuhan uang yang mendesak, Rizka kembali memutar otak. Terinspirasi oleh ramainya pariwisata di Bogor,  tebersitlah idenya untuk membuat produk oleh-oleh khas Bogor.

Tak ingin mengulang pengalaman pahit saat berdagang bakso, Rizka mulai memikirkan matang-matang konsep usahanya. Selain kualitas, produknya harus mempunyai ciri khas yang lekat dengan Kota Bogor.

Ia pun teringat pada lapis surabaya yang begitu populer. “Di Bogor belum ada lapis seperti itu,” kata dia.Lantas, Rizka meminta resep dari ibunya di Surabaya. Supaya nuansa Kota Hujan tampak, ia menggunakan talas yang berlimpah di Bogor. Ia mencoba bahan baku itu sebagai pengganti terigu. Bermodal uang Rp 500.000 dan mixer milik mertua, perempuan 29 tahun ini membuat lapis talas.

Semula Rizka menjual lapis talas itu ke tetangga, teman, arisan, serta kelompok pengajian. Namun, ia menyadari gaya pemasaran semacam itu tak bisa mendongkrak penjualan dengan cepat. Rizka pun menawarkan lapis talas ke beberapa hotel di Bogor. Sayang, usaha itu gagal.

Tak kurang akal, Rizka pun melobi pimpinan perhimpunan pengusaha hotel dan restoran di Bogor. Ia mengenal jaringan pengusaha hotel dan resto karena aktif mengikuti pameran yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Dari situ, jalan bagi Rizka terbuka. “Hotel memberi kesempatan untuk membuka booth jika ada rombongan yang ingin membeli oleh-oleh,” kata perempuan ayu berhijab ini.

Rasa yang enak, tekstur lembut, serta harga yang terjangkau membuat lapis talas Rizka benar-benar menjadi buah tangan andalan Bogor. Bukan hanya tamu hotel, banyak pelancong yang juga mencari Lapis Sangkuriang untuk dibawa pulang.

Untuk memudahkan pelanggan, Rizka membuka gerai pertamanya di Jalan Baru pada Desember 2011. Tahun berikutnya, dua gerai lain beroperasi.

Kendati terlihat mulus, Rizka juga mengalami berbagai rintangan dalam perjalanan usahanya. Pernah, saat jumlah karyawan mencapai 60 orang, Rizka merasakan masalah datang silih berganti. “Ketika itu, saya sempat berpikir mengakhiri usaha ini. Pusing mengelola banyak orang,” kisah dia.

Seorang teman lantas menyarankan Rizka untuk memakai jasa konsultan bisnis. Maklum, meski sudah mengenyam pendidikan magister bisnis, Rizka mengakui tak bisa langsung mempraktikkan ilmunya di lapangan. Ia pun mendapat banyak masukan dari konsultan bisnis tersebut.

Sampai kini, Rizka masih menggunakan jasa konsultan bisnis. Jumlah karyawan sudah mencapai 114 orang. Ia juga berencana meningkatkan kapasitas produksi hingga empat kali lipat. Ia tengah mempersiapkan sebuah pabrik lapis. (J. Ani Kristanti, Fransiska Firlana)


Sukamdani Sahid: Bisnis adalah Berkah

Sejak 1995, Sukamdani (85) sudah mulai melepas kegiatan bisnisnya dan menyerahkan kepada anak-anaknya. Dalam wawancara dengan Kompas yang didampingi istrinya, Juliah, ia menuturkan kini hari-harinya diisi dengan senam dan mengurus pesantren.

Bagaimana Anda memulai bisnis?
 
Menjadi pengusaha adalah cita-cita saya sejak masih zaman perang. Tahun 1945, saat perang tidak ada logistik. Saya berpikir bagaimana memberi makan tentara walaupun saat itu didukung rakyat.

Lalu saya berpikir mengumpulkan kain batik rakyat untuk ditukar dengan beras. Beras itu untuk makan tentara. Saat berperang tahun 1948-1950, saya juga jadi pengusaha. Tentara butuh makanan, lalu cari gaplek di Wonogiri dan kemudian gaplek ini ditukar dengan beras.

Bisnis di Jakarta?
 
Setelah perang, saya kembali bersekolah. Kemudian tahun 1952 pindah ke Jakarta dan mulai jadi pegawai negeri sipil di Kementerian Dalam Negeri. Tapi tidak kerasan. Saya ingin jadi pemimpin, lalu pindah menjadi pegawai swasta, namun saya juga sudah merintis usaha kecil-kecilan. Pada 27 Mei 1953, saya menikah dengan Juliah. Pada 1 Juni tahun yang sama saya menyewa tempat ini (Grand Sahid Jaya Hotel di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta). Istri mendukung untuk berwirausaha dengan membuat percetakan. Saya membeli dua alat percetakan dari tabungan. Juliah ini anak orang berada, tapi tetap mau berusaha.

Bisnis ini kemudian besar?
 
Saya senang berorganisasi. Dari usaha grafika, saya berinisiatif bikin kongres perusahaan percetakan Indonesia pada Juli 1956. Karena berorganisasi ini saya bertemu dengan Presiden Soekarno. Saya melihat hubungan dengan Presiden harus dibina. Bisnis percetakan bisa berkembang baik karena saat peralihan ibu kota dari Yogyakarta ke Jakarta banyak buku dan dokumen pemerintah yang harus dicetak. Saya mendapat banyak order. Bahkan order saya limpahkan ke Bandung, Semarang, hingga Surabaya. Saya dikenal pintar cari order.

Bila kemudian bisnis perhotelan, asal usulnya darimana?
 
Ceritanya, saya pernah terdampar di di Medan pada tahun 1960 karena penerbangan yang sedikit dan selalu penuh. Saya menginap di hotel cukup lama. Dari kejadian ini, saya berpikir bisnis hotel pasti dibutuhkan oleh negara yang baru merdeka. Saya memulai bisnis hotel di Solo. Investasi hotel dari usaha dagang kertas dan percetakan. Untuk membangun hotel, saat itu susah cari semen. Akhirnya saya beli semen selundupan.

Bagaimana kisah Anda memasuki dunia pendidikan?
 
Saya masuk ke dunia pendidikan dengan mendirikan Akademi Grafika tahun 1965, lalu membuat Sekolah Tinggi Grafika. Kemudian mendirikan Universitas Veteran Bangun Nusantara di Sukoharjo melalui Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Sosial Sahid Jaya. Prinsipnya kesejahteraan untuk karyawan, pendidikan untuk masyarakat luas, dan pengabdian sosial untuk masyarakat. Kemudian Akademi Perhotelan pada 1988, lalu membikin Universitas Sahid.

Bagaimana dengan regenerasi Sahid Group?
 
Saya sudah memulai regenerasi pada tahun 1990-an, namun pada 1997 terjadi krisis. Anak-anak sempat gamang. Utang dalam negeri dan luar negeri menumpuk. Saya memimpin lagi, namun tidak lama karena pada 2002 saya serahkan kembali ke anak-anak. Tahun 2008 semua utang sudah selesai.

Kunci sukses dalam berbisnis?
 
Pertama adalah jujur, yaitu jujur kepada Tuhan dan diri sendiri. Kemudian disiplin mengatur waktu dan teguh menuju target yang akan dicapai. Ketiga, bertanggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain. Keempat, kerja keras. Kelima, berprestasi yang direstui Allah dan didukung orang lain.

Falsafah Anda dalam berbisnis?
 
Hidup harus bisa menghidupi orang lain, artinya membuka lapangan kerja. Tidak serakah. Bisnis itu untuk kesejahteraan. Mengembangkan uang yang didapat untuk membuka lapangan kerja agar orang lain juga bisa berkembang. Bisnis adalah kesempatan mengembangkan uang agar orang lain bisa mendapat nafkah, mendapat rumah, dan mendapat pendidikan. Bisnis itu berkah bagi kita dan bagi orang lain.

Apa yang Anda lakukan dalam keseharian sekarang ini?
 
Dulu saya suka main golf, tetapi saya dan istri sekarang sering senam. Saya mengurus pesantren di Bogor. Indonesia dengan penduduk yang beragama Islam lebih dari 200 juta harus memiliki wirausahawan yang tangguh. Saya minta santri menjadi pengusaha. Di dalam pesantren, saya menumbuhkan etos kerja keras dan etos keilmuan. Santri harus selalu belajar. Dari kegiatan ini saya ingin menyiapkan kader bangsa berbudi agar bisa menghidupi keluarga dan bangsa.

Bagaiamana Anda melihat kondisi bangsa?
 
Secara ekonomi dan pendidikan sekarang lebih maju, tetapi secara moral bangsa ini mengalami kemunduran karena tidak lagi mengingat Pancasila. Budaya sudah dilupakan sehingga bangsa ini tidak berkarakter. Eforia reformasi harus segera diakhiri. Penegakan hukum harus dilakukan. (M Clara Wresti & Andreas Maryoto)